Friday, May 26, 2006

Similarity in Differences

How similar a man and woman? there is a man in woman but no woman in a man. why men worship men, and women worship men, but none the opposite men would admit. no woman in me worship men, but the man in me worship men. is it because there in men is sturdy phallus? while there in women a delicate rose? why delicacy be underestimated. why sturdiness be most appreciated? is it something that is suppose to be? is it something you just dont question? what is fair then? too many differences women to men? what is fair? what similar a man to a woman but the three letters that made man a man? nothing. what differences a woman to a man but the two letters that made woman a woman? nothing. nothing but everything. shit. i must be losing it.

Sunday, April 23, 2006

RETORIK?

Darah. Pembunuhan. Darah. Mengalir.

Siapa yang membunuhnya?

Tubuh mati telentang. Berlumuran darah.

Kenapa matinya?

Abdomennya tertusuk tigaperempat pisau lalu pisau ditarik dari kiri ke kanan. Membelah sempurna otot perutnya.

Sekali lagi, siapa yang membunuhnya?

Dirinya sendiri mungkin. Dia ambil pisau dapur, dia penasaran apa yang ada di balik otot perutnya.

Jadi itu alasannya?

Ya. Dia penasaran bagaimana ususnya terlipat di balik perutnya.

Adakah kamu membantunya?

Aku hanya bertanya padanya, ’Bagaimana lipatan ususmu?’

Kali ini bagaimana matinya?

Telungkup. Punggungnya membelakangi dengan jantung di tangan kanannya.

Jantung siapa yang ia genggam?

Jantungnya sendiri.

Kenapa bisa sampai begitu?

Kenapa?

Ya. Kenapa?

Karena dia ingin rasa denyutan jantungnya di kepalan tangannya sendiri.

Tapi jantung itu pasti sudah tak berdenyut saat ia genggam. Bukankah itu bodoh?

Bodohkah ingin tau? Ingin tau adalah awal pemikiran.

Kamu ngelantur. Bukankah ada pemikiran bodoh?

Bodohkah pemikiran selama masih bisa dipikirkan? Orang bodoh tidak bisa berpikir, dia akan terus bertanya-tanya tanpa tau kenapa dan apa yang ia tanyakan.

Kali ini bagaimana matinya?

Dia gantung diri. Naik dia ke atas kursi reyot. Dia tendang kursi itu. Tambang menegang. Dia terayun tapi tak merasakan ayunan itu, dia mati. Pertama derak tulang leher patah, ia tak bisa napas. Jantung berhenti.

Kamu ada hubungannya dengan peristiwa ini?

Tidak, dia putuskan sendiri apa yang dia putuskan.

Kamu tak merasa memotivasi dia?

Tidak. Jantungnya yang memotivasi. Otaknya mendorongnya.


Oksigen tak sampai ke otak, jadi otak mati. Lalu jantung tak lagi diperintah otak. Dia tak mau bekerja. Berhenti.

Apakah kamu membayangkan semua ini?

Addiena

Januari 2003

Wednesday, April 19, 2006

Ketinggalan

Kau membuatku, ketinggalan jiwaku di sana.
Kau membuatku, ketinggalan jiwaku di abu rokok, di gitar butut, di poster SLANK, di tirai bambu.
Kau membuatku, ketinggalan nyawaku di sana.
Di antara ampas kopi, di antara kakimu, di antara buku-buku.
Di antara sastra dan langit jingga ungu.
Aku ketinggalan. Lupa?
Aku yakin bukan itu.
Di sini gelap. Mati lampu. Aku yakin di sana neonmu masih menyala.
Kau membuatku, ketinggalan diriku di sana.

Senin, 13 Januari ‘03

Angin Malam

Aku masuk ke dalam punggungmu, kau bisu

Kau masuk ke dalam dadaku, aku bisu

Udara bikin kelenjar beku

Leherku sakit,

Tak mau aku pakai kulit kepala lain,

‘sayat lehermu’,

akhirnya kau bilang.

Rabu, 260303

Tusuk Tikam Jejak

hrd-jkt@sam-design.netTertusuk tikaman jejak

Tertikam jejakan tusuk

Terjejak tusukan tikam

Tusukan tikam yang terjejak

Tikaman jejak yang tertusuk

Jejakan tusuk yang tertikam

Menusuk menikam menjejak

Sepi itu..

Ditulis ulang : Kamis, 030403

Taik

akhirnya dia pergi

‘tapi saya baru tahu kemarin!’

kamu bisa apa?

‘dia benar-benar pergi……………’

kamu tak bisa apa-apa!

‘menangis juga tak bisa………….’

Dia pergi ke tempat yang kamu khayalkan kamu akan bertemu dengan dia lagi di sana

‘monyet!!! Saya kesal!!! Monyet!!! Bukan kesal!!! Sesal!!!!’

kamu bisa apa!

‘……………………………………………………..’

bandung,25 Mei 2003

11.09 pagi

Kesukaan

Saya suka gelap seperti ini,
Di mana terang tak lagi berarti
Saya suka senja seperti ini,
Di mana siang tak lagi dinanti
Saya suka saat seperti ini,
Di mana waktu selamanya berhenti

Senin, 310303

Saturday, April 15, 2006

Asap Rokok, Kopi, dan Pisang Goreng

Asap rokok bilang ia lebih kotor daripada kopi dan pisang goreng. Kopi bilang hanya untuk yang pasif, kopi bilang asap rokok tidak lebih kotor daripada dirinya. Pisang goreng tertawa, ia anggap dirinya paling kotor karena berminyak.

Asap rokok bangga ia bisa terbang, tapi terdiam saat kopi bilang ia dapat mengalir. Kopi pun terdiam saat pisang goreng bilang ia dapat timbulkan nafsu.

Asap rokok menyombongkan diri pada kopi dan pisang goreng bahwa ia dapat timbulkan candu. Kopi tertawa, menurutnya, dirinyalah yang paling banyak membuat orang kecanduan. Tapi kopi langsung terdiam saat pisang goreng bertanya mana yang lebih banyak dipilih orang untuk ditelan.

Asap rokok berkoar lihat saja siapa yang paling duluan dijamah di antara mereka.

5 menit..
bara sudah mulai menyentuh filter, asap rokok hampir lenyap, asap rokok hampir menangis. Kopi mulai kedinginan, kopi mulai menangis. Pisang goreng juga jadi lembek dan jadi terisak.

10 menit..
asap rokok menyerah, hilang, mati. Kopi basi, mati. Pisang goreng lembek, berminyak, berkeringat, mati.

Bapak datang, ia melihat ke rokok, ke kopi, dan ke pisang goreng, ‘Mbok.. tolong bereskan di depan…Bapak mau nonton TV!’



Addiena Irzan
Senin, 240303

Mengapa Aku Sering Tak Di Sini

Saat di mana..

Tempat di sana..

Aku tidak berada..

Sering tidak di sini.

Di tempat lain,

Tak tahu di mana.

‘hei..sudah berapa kali aku memergokimu tidak di sini! Di mana kamu? Ke mana?’

dia bertanya.

‘aku tak tahu, yang jelas tidak di sini.’

Ragaku berada.

Tidak jiwaku, di sini.

Kenapa terjadi sering, aku tak tahu.

Ke mana perginya jiwaku?

Aku tak tahu.

‘hei.. kemarin aku melihat jiwamu menari-nari di atas awan! Kusapa, dan dia bilang salam untuk raganya.’

Seseorang berkata suatu hari.

Ragaku diam tak berkomunikasi, bahkan dengan jiwanya.

Raga yang kehilangan jiwanya.

Jiwaku tak merasa kehilangan raganya.

Jiwaku sepertinya bebas melayang, menari-nari.

‘hei… kalau tidak salah aku baru saja papasan dengan jiwamu, dia berjalan sambil bernyanyi-nyanyi di taman kota.’ Orang yang lain lagi berkata pada ragaku, yang di sana, tapi tidak juga.

Raga yang kehilangan jiwanya, tak tahu ke mana perginya.

Ragaku di sana, duduk terdiam selama 20 tahun, tapi tidak juga.

Kapan kembalinya jiwa yang bebas untuk tak kembali?

Kapan berhentinya raga yang tak bebas untuk tak berhenti?

‘hei.. jiwamu mengalami kecelakaan, dia tertabrak kereta, remuk di dalam, tapi jangan kuatir, tak terlihat di luarnya.’

Kabar itu perlahan membuat ragaku mulai merasakan keberadaannya. Jiwaku. Jiwaku menyelinap datang mendekati ragaku yang tidak bebas untuk tidak menunggunya. Jiwaku. Sakit.

Sakit.

Sakit sekali yang terasa ketika jiwaku masuk.

Masuk ke dalam ragaku.

Pegal-pegal dahsyat seluruh tubuh yang cepat berakhir seketika sesaat jiwa dan ragaku menyatu.

Ragaku merasakan jiwaku yang telah remuk di dalamnya. Ragaku mempertanyakan kenapa jiwaku membiarkan kecelakaan itu terjadi.

Rupanya jiwaku sudah mulai ceroboh.

Akhirnya tidak akan baik.

Akhirnya tidak akan baik. Akhirnya tidak akan baik.

Jangan.

Jangan berjalan di atas rel kereta, bila tak ingin tertabrak.

‘untung remukmu tak terlihat, jiwa. Kau bebas berkelana, tapi kembalimu tak selalu kepadaku, raga.’

‘hei.. kau sudah kembali, tapi kenapa masih ada yang kurang? Kau belum di sini.’ Seseorang berkata.

Aku memang belum di sini. Di mana aku tak tahu. Mungkin sebagian jiwaku menempel di roda kereta.

Jiwa akan pulih sebentar atau lama lagi. Jiwa akan meninggalkan ragaku lagi.

Aku semakin tidak berada.

Aku semakin tidak di sini.

Di mana, aku tak tahu.

Suatu saat jiwaku akan lelah berkelana.

Suatu saat ragaku akan lelah duduk terdiam.

Suatu saat, jiwaku, ragaku, akan beristirahat.

Suatu saat, jiwaku, ragaku, akan menghilang.

Sepenuhnya tidak berada, sepenuhnya tidak di sini.

Selamanya.

(tapi sebagian jiwaku masih menempel di roda kereta)

Senin, 19 April 2004

15.45

CAFE

Cafe, coffee, caffeine, nicotine, theine, morphine..

Lebih baik kita kembali ke cafe. Di sana ada orang-orang yang menikmati dirinya, menemukan dirinya, ada yang membenci dirinya. Malam ini (sudah larut), tersisa dua orang , tampaknya tidak saling mengenal, aku sendiri tidak mengenal mereka, mereka dua, dua hati yang berbeda, dua jiwa yang sama sekali lain.

Yang wanita, cantik, pucat, rambutnya hitam lurus sebahu, 20-an, matanya bulat indah, bibirnya karamel. Ia membalut tubuhnya dengan jaket yang ujung-ujungnya dari binatang. Wanita itu hot lemon tea.

Di luar hujan.

Yang pria, rambutnya hitam cepak, kulitnya hitam, hidungnya mancung, bibirnya madu, matanya indah (bulatnya lembut seperti mata anak anjing, menantang). Ia kurus, dengan jaket hitam, tampak tak peduli, muda, 20-an. Pria itu Marlboro merah dan Espresso panas.

Di luar hujan.

Wanitanya, dengan bibir karamel, sesekali melirik pria Espresso, aku, bartender.

Prianya, dengan bibir madu, sesekali melirik wanita hot lemon tea, aku, lilin-lilin mengapung yang tak pernah mati.

Di luar hujan.

Wanitanya kedinginan, ia keluarkan Capri, menyalakannya dengan lilin apung yang tak pernah mati. Mascaranya sedikit luntur mungkin habis menangis, mungkin memang begitu sejak semula.

Prianya terkadang senyum-senyum sendiri, mungkin ia jatuh cinta, mungkin memang begitu sejak semula.

Kini aku melihat ke luar café ke arah permainan lampu-lampu kota. Aku terbang ke sana sebentar.

Di luar hujan.

Addiena Irzan

6 Februari 2003

delapan malam

Bandung

-ketika bulan muram di atas kota di lembah dingin-

Sedihnya Bahagia

‘Terbebani gak sih, dengan hidup?’ A bertanya kepada B.

‘Aku gak ngerti.’ B menjawab.

‘Maksudku, hidup menaruh beban yang berat di pundakku. Kamu?’

‘Hidup pernah berbuat begitu tapi terkadang beratnya berkurang.’

‘ya, berkurang, tapi tak pernah benar-benar hilang.’

‘Pernah hilang tapi selalu diganti yang baru.’

‘Ya, itu maksudku, tak pernah benar-benar hilang.’

B dan A terdiam sebentar, lalu B,

‘Aku takut sedih sebesar aku takut bahagia.’

‘Sepakat, aku juga sepertimu. Kesedihan datang, aku takut, lalu diganti kebahagiaan aku takut, lalu kembali sedih lalu bahagia lalu sedih lalu bahagia, sedih, bahagia, sedih, bahagia, terus saja seperti itu, berputar-putar, putar-putar, putar, putar…’

‘Ya, kesedihan bagiku sama dengan kebahagiaan.’

‘Itu solusimu?’

‘Iya. Aku menganggap sama perasaan itu, sedih sama dengan bahagia, jadi tak pernah benar-benar bahagia.’

‘Tak pernah benar-benar sedih?’

‘gak juga…’

‘jadi kamu benar-benar sedih, tapi tak pernah benar-benar bahagia?’

‘Yahh… kan sudah kubilang, sedih sama dengan bahagia.’

‘Kalau dipikir-pikir kita sama.’

B dan A kembali terdiam, lalu B,

‘Saat bahagia datang aku sedih, karena sedih akan datang berikutnya, saat sedih datang aku sedih, karena bahagia akan datang diikuti sedihnya. Kita kurasa sama.’

‘Ternyata kita memang sama. Aku pun begitu.’

A merangkul B, lalu A,

‘Sekarang apa yang kaurasa?’

‘Takut.’

‘Kenapa?’

‘Karena aku sekarang bahagia.’

‘Kita memang sama.’

‘Aku ingin lari saja, lari dari bahagia dan sedihnya.’

‘Aku pun ingin pergi. Pergi melupakan bahagia dan sedihnya.’

‘Kita kurasa sama.’

‘Aku pun merasa begitu.’

‘Mungkin kita bisa pergi?’

‘Ya, tapi sebentar lagi saja, aku ingin diam saja di sini, sebentar saja, diam merangkulmu yang merangkulku yang tak benar-benar bahagia agar sedih yang akan datang berkurang.’

‘Kita memang sama. Aku yang tak benar-benar bahagia merangkulmu agar sedih yang akan datang juga berkurang, juga ingin diam sebentar lagi saja sebelum pergi.’

A menatap B, semakin merangkulnya, lalu A,

‘Sadarkah kau di sini hanya ada kita dan bintang?’

‘Tentu. Sadarkah kau kita harus berciuman?’

A dan B berciuman, lalu berbaring di atas rumput, A dan B saling menggenggam tangan, memandang bintang sejuta yang iri, lalu A,

‘Aku tak benar-benar bahagia.’

‘Aku pun tak benar-benar bahagia.’

A dan B kembali berciuman, lama, sebelum kembali menatap bintang, lalu tangan mereka menyatu, erat, lalu mereka diam, hening, hanya memandangi bintang sejuta yang iri.

Untuk : kamu, yang pasti tahu siapa dirimu.

Bandung, 27 Agustus 2003

Seekor Burung Pipit yang Jatuh Cinta pada Seekor Anjing yang Punya Kucing

Kamu adalah pipit, aku anjing, dan dia kucing. Kamu mencuap tentang salahnya perasaanmu, tentang menantang bahaya, tentang cinta yang tidak mungkin. Aku menyalak tentang betapa aku menyayangimu, mencintaimu, tentang cinta yang tidak mungkin. Dia mengeong tentang hal-hal yang sebaiknya kamu tidak tahu. Lidahku terjulur, ingin menjilati paruhmu, memandikanmu dengan liurku, memakan kutumu. Mungkin aku menjijikkan, mungkin juga tidak. Paling tidak aku suka jika kamu pun memakan kutuku. Kucingku juga suka memakan kutuku, menjilatinya. Tapi tak sama rasanya. Kamu tak perlu tahu kucingku, tapi paruhmu kadang menyakitiku. Anjing.

Seseorang dan Aku

Seseorang : ‘kau ingin pergi?”

Aku : ‘ya..’

Seseorang : ‘ke mana?’

Aku : ‘ke tempat yang tak bertempat.’

Seseorang : ‘di mana?’

Aku : ‘di ujung yang tak berujung.’

Seseorang : ‘seperti kau ingin lari.’

Aku : ‘tidak sepenuhnya.’

Seseorang : ‘maksud?’

Aku : ‘aku ingin nyetir mobil.’

Seseorang : ‘hah?! Memang kau kuat?’

Aku : ‘aku bisa..’

Seseorang : ‘adakah jauh?’

Aku : ‘jauhnya tidak begitu jauh.’

Seseorang : ‘adakah dekat?’

Aku : ‘dekatnya tidak begitu dekat.’

Seseorang : ‘adakah kapan?’

Aku : ‘3 tahun…’

Seseorang : ‘3 tahun?’

Aku : ‘…dari sekarang.’

Seseorang : ‘bisa kucegah?’

Aku : ‘tidak.’

Seseorang : ‘…..’

Aku : ‘doakan.’

Seseorang : ‘pasti.’

Aku : ‘….’

Seseorang : ‘boleh kutemani?’

Aku : ‘boleh, jika kau kuat.’

Seseorang : ‘aku pasti kuat.’

Aku : ‘boleh, jika kau tahan.’

Seseorang : ‘aku akan tahan.’

Aku : ‘boleh jika kau mampu.’

Seseorang : ‘aku tentu mampu.’

Aku : ‘boleh, jika kuminta jantungmu (?).

Seseorang : ‘……….’

Aku : ‘kau diam?’

Seseorang : ‘………………….’

Aku : ‘ kau berpikir dua kali. Tak usah kau jawab. Aku sendiri saja.’

Seseorang :’………………………………’

Aku : ‘aku pamit.’

Seseorang : ‘sudahkah 3 tahun?’

Aku : ‘sudah, bagiku.’

Seseorang : ‘……………………………………………’

Aku : ‘aku pamit.

Senin, 240303

1.30 pm